Al Qur’an Sebagai Praktik Kehidupan Bagi Umat Muslim

alquran digital lengkap

Al Qur’an Sebagai Praktik Kehidupan Bagi Umat Muslim – Mari kita simak artikel berikut ini. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang telah memasuki zaman manusia untuk membentuk sejarah. Menurut sumber-sumber Muslim, Malaikat Jibril memberi wahyu kepada Nabi Muhammad pada tahun 610 M ketika dia sedang berdoa di sebuah gua di Gunung Hira, di luar Mekah.

Dikatakan bahwa dalam pertemuan awal ini, Malaikat Jibril menekan Muhammad dengan sangat keras sehingga dia merasa sedang dicekik. Al-Qur’an menyatakan bahwa malaikat kemudian memerintahkan ; Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, karena Tuhanmu adalah yang paling murah hati yang mengajar dengan pena mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qur’an 96:1-5)

Al Qur’an Sebagai Praktik Kehidupan Bagi Umat Muslim

Muslim mengklaim bahwa Tuhan memperingatkan Nabi Muhammad, Pasti akan memberikan arahan yang berat kepadamu , dan menyuruhnya untuk bangun sepanjang malam dalam doa, dan mengingat dengan sungguh-sungguh apa yang diperintahkan kepadanya.

Bagi umat Islam “arahan yang berbobot” ini menandai Nabi Muhammad sebagai Utusan Tuhan yang terakhir bagi umat manusia; peristiwa ini memiliki dampak yang besar pada jalannya sejarah manusia.Al-Qur’an dikatakan telah dikomunikasikan kepada Nabi Muhammad dalam dua cara. Muslim percaya bahwa itu dikomunikasikan melalui Malaikat Jibril.

Komunikasi ini diturunkan dalam porsi kecil: satu ayat, kelompok ayat, dan seluruh surah atau surahs selama periode dua puluh sampai dua puluh dua tahun. Al-Qur’an bagi umat Islam bukan hanya kata kata yang bisa diucapkan, didengar, dan direkam; itu juga merupakan pola dasar surgawi di mana Al-Qur’an yang dibacakan dan ditulis hanyalah salinan duniawi.

Al-Qur’an dalam bentuk pola dasar surgawi bagi umat Islam adalah sumber wahyu ilahi sepanjang sejarah manusia dan disimpan selamanya oleh Tuhan. Ini adalah perjanjian Allah dengan manusia yang Dia buat dengan anak-anak Adam ketika mereka hanyalah gagasan atau esensi di alam ilahi.

Nabi Muhammad juga mengaku pernah mengalami Al-Qur’an surgawi ini, selain sebagai penerima wahyu. Dia akan mengalami keadaan spiritual yang mendalam, menggigil pada hari musim panas yang panas atau berkeringat pada hari musim dingin, mendengar suara seperti dering bel.

Muslim juga percaya bahwa Al-Qur’an juga diturunkan sebagian, ke hati Nabi Muhammad pada “malam penentuan” (Qur’an 44:3 dan 97:1), malam yang diberkati bagi semua Muslim. Peristiwa ini menyucikan hidupnya dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan bagi umat Islam untuk diikuti.

Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya: Bukankah Aku Tuhanmu? dan orang-orang yang memilih untuk menyembah Allah. Al-Qur’an adalah meterai dan kesaksian untuk perjanjian ini. Pesannya adalah, bagi umat Islam, penegasan kuat ketuhanan ilahi dan komitmen Muslim.

Al-Qur’an sebagai teks duniawi telah terikat erat dengan sejarah Muslim. Ia menjadi jawaban atas problematika masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad. Al-Qur’an juga merupakan jawaban atas pertanyaan Nabi Muhammad tentang makna kehidupan manusia dan misteri penciptaan, dan terkait erat dengan sejarah komunitas Muslim yang baru lahir di Mekah dan, kemudian, di Madinah.

Banyak dari ayat-ayat Al-Qur’an dikatakan telah diwahyukan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tertentu atau situasi-situasi kehidupan. Jawaban-jawaban yang diberikan dipandang oleh umat Islam sebagai prinsip-prinsip umum, imperatif moral, atau ajaran yang berlaku untuk semua waktu dan tempat.

Al-Qur’an Sebagai Bacaan dalam Praktik Kehidupan Bagi Umat Muslim

Al-Qur’an bagi umat Islam adalah sumber berkah dan pahala ilahi, ketenangan dan bimbingan. Dengan itu, seorang anak disambut saat lahir, dengan itu dia dibimbing melalui perjalanan hidup, dan dengan itu, dikirim ke tempat tinggal terakhir.

Perjalanan panjang dalam hidup dengan Al-Qur’an ini adalah dengan memasukkan bacaan Al-Qur’an secara keseluruhan selama periode tertentu atau seminggu, sebulan, atau lebih lama sesuai dengan pembagian teks suci untuk bacaan harian.

Proses ini dikenal sebagai Khatm al-Qur’an atau penyelesaian bacaannya. Pada acara-acara khusus, seperti bulan puasa Ramadhan, orang-orang saleh berjanji untuk membaca seluruh Al-Qur’an dengan membaginya menjadi tiga puluh bagian yang sama yang sesuai dengan tiga puluh malam di bulan suci Muslim.

Muslim menemukan pembacaan, menghafal, menyalin atau memiliki salinan Al-Qur’an di rumah mereka sumber berkah yang besar. Memang, diyakini bahwa pada hari kebangkitan, status seorang pria atau wanita Muslim di surga akan ditentukan oleh jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang dia hafal selama hidup mereka di dunia.

Al-Qur’an Sebagai Inspirasi

Al-Qur’an pada dasarnya adalah serangkaian pernyataan mandiri, perumpamaan, cerita, perintah, dan larangan. Namun, umat Islam percaya bahwa yang mendasari pengelompokan yang beragam ini adalah kesatuan tujuan, pesan, idiom, dan gaya. Al-Qur’an dalam bahasa Arab telah dengan tepat digambarkan oleh Muslim dan non-Muslim sebagai simfoni kata-kata. Demikianlah artikel al qur’an sebagai praktik kehidupan bagi umat muslim. Semoga bermanfaat.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan